ibu prita adalah pasien sebuah rumah sakit yang karena protes terhadap perlakuan dr dan pihak rumah sakit yg terkesan tidak propesional dalam menangani pasien. Yang akhirnya di masukkan dalam penjara.
http://detik. copasnews. com/2009/ 06/isi-surat- email-churhat- prita-mulyasari. html#comment- form
Prita Mulyasari - suaraPembaca
Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.
Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.
Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.
dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.
Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.
Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.
Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.
Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.
Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.
Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.
Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.
Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.
dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.
Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.
Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.
Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.
Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.
Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.
Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.
Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.
Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.
Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.
Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.
Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.
Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.
Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.
Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.
Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.
Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.
Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.
Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.
Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.
Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.
Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
Sumber surat :kompas.com
About Me
- kangbahra
- Orang dusun tapi ingin maju...hehe...maju tak gentar menempuh rintangan. Kesuksesan mana yang tidak butuh pengorbanan?
Daftar isi
- Fiqih Mu'amalah (3)
- Hikmah (5)
- Kebojonggambiran (1)
- Pakta Realita (2)
- Ramadanniyah (7)
- Sastra (7)
- Warta Berita (2)
Blog Archive
Kesan Pesan
Tampilkan postingan dengan label Pakta Realita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pakta Realita. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Juni 2009
Isi Curhatan Ibu Mulyasari
Diposting oleh
kangbahra
di
10.52
0
komentar
Label: Pakta Realita
Sabtu, 20 Desember 2008
Badru bercita-cita jadi karyawan TV
Nama lengkapnya Badruzaman, biasa disapa Badru. Ukuran tubuhnya tergolong kurus. Meski demikian jangan remehkan semangatnya! Untuk sampai ke sekolah setiap hari ia menyeberangi sungai Cikaengan selebar tidak kurang dari 70 meter yang memisahkan Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut dan Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya.
Sejak awal 2007 telah banyak media, baik media cetak maupun media elektronik yang memberitakan perjuangan Badru dan kawan-kawannya untuk mendapatkan pendidikan. Namun hingga kini belum ada “hasil” atau perubahan yang berarti. Badru dan 15 kawannya tetap harus menyeberang sungai untuk sampai ke sekolah. Tetap saja air mengalir deras kedalam kelas saat hujan datang. Semuanya belum ada yang berubah.
Yang berarti bagi Badru dengan kehadiran media di kampung dan sekolahnya adalah cita-citanya. Bila ditanya cita-citanya, dengan mantap ia akan menjawab: “menjadi karyawan tv.” Maksudnya adalah reporter atau kameramen.
Ia begitu bersemangat ketika saya mempersilahkannya untuk mencoba kamera digital yang saya bawa. Dengan hanya bermodalkan sedikit arahan, ia begitu bangga menangkap berbagai suasana di sekolahnya.
Saya pikir hanya itulah “perubahan” konkrit yang dapat saya sumbangkan bagi Badru. Hanya meminjamkan kamera itulah yang sedikit atau banyak akan menginspirasi Badru untuk terus mengejar cita-citanya. Siapa tahu, suatu waktu dimasa depan, Badru akan menggantikan Oscar Motulloh atau Arbain Rambey.
Badru terduduk lesu diatas batu besar di pinggir sungai. Baju putihnya yang dekil disampirkan di pundak kirinya. Ukuran tubuhnya yang kecil kurus tampak kontras dengan batu kali yang didudukinya. Celana pendek merah yang dikenakannya tak jauh beda kumalnya dengan bajunya. Dengan posisi duduk di atas batu, jelas terlihat ada jahitan tangan tepat di tengah diantara dua pahanya, jahitan dengan benang warna putih yang simpang siur membuktikan bahwa jahitan itu dibuat oleh tangan yang tak terbiasa melakukan tugas jahit menjahit. Resleting celana Badru sudah lama rusak, upaya untuk menutupinya adalah dengan memakai peniti yang disematkan ditengah-tengah resleting, meski demikian angin masih bebas berhembus ke dalam celananya lewat celah itu.
Lamunan Badru, bocah kelas lima SD itu tak terganggu dengan keceriaan teman-temannya yang berenang, meloncat, menyelam, dan saling memercikkan air di pinggiran sungai itu. Di tengah sungai arus mengalir deras, alirannya berbuih-buih ketika manabrak batu-batu yang beraneka ukuran, suara arus sungai mengalahkan celoteh dan keriangan anak-anak itu.
Badru bocah kurus berambut lurus memang pantas bersedih. Sudah 4 hari ia tak bisa pulang ke rumah orang tuanya yang terletak di seberang sungai tepatnya di Kampung Bantar Bodas, Desa Simpang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Beginilah resiko yang harus dijalaninya karena ia bersekolah di SDN Karyasari, Kecamatan Bojonggambir, Tasikmalaya. Antara rumah dan sekolahnya dipisahkan oleh Sungai Cikaengan selebar tak kurang dari 70 meter. Ia terpaksa memilih bersekolah di sekolah desa seberang sungai karena itulah sekolah dasar yang terdekat dari rumahnya.
Saat itu arus sungai begitu deras, tak ada orang yang mampu menyeberanginya, siapa pun yang nekat dan sekuat apapun langkah orang itu, ia pasti akan terseret arus, terlebih anak-anak. Kawan-kawan Badru masih tetap asyik bermain di pinggiran, membunuh waktu sambil berharap air sungai bisa surut secara tiba-tiba dan mereka bisa berlari melintasi sungai pulang ke rumah. Badru masih diam di tempat, seolah ingin menemani batu besar yang telah puluhan tahun diam ditempatnya yang saat ini didudukinya.
Lamunan Badru akhirnya hapus, saat seorang kawannya dengan tiba-tiba mendorong dari belakang. Badru terpental dan meluncur ke sungai. Kawan-kawan lainnya yang ada di pinggiran sungai bersorak-sorak. Saat tubuh Badru yang tak siap itu jatuh ke sungai, airnya berpendar seperti air dalam baskom yang dihentakkan tiba-tiba. Tubuh Badru tenggelam, namun hingga riak air kembali tenang Badru tak juga muncul. Melihat kejadian itu, tak ada lagi mulut bersorak, tak ada lagi tangan bertepuk. Badru tenggelam, hilang. Teman-temannya hanya mematung. Namun disaat anak-anak berpikir bahwa Badru mungkin celaka, tiba-tiba Badru meloncat dari dalam air, sambil memutar-mutar baju seragam yang basah di tangan kanannya. Rambutnya yang basah menutupi sebagian wajahnya, mulutnya monyong-monyong seperti ikan mas yang diangkat dari air.
“Wuaaaa…” Badru berteriak seolah merasa dirinya adalah Rambo yang muncul dari sungai lalu memberondongkan senjatanya ke arah musuh. Teman-temannya menutup mata dan ada yang menghindar cipratan air yang ditimbulkan dari putaran baju basahnya. Mereka kembali meloncat ke arah sungai dan bersama-sama main perang air.
Didalam air Badru lupa akan kesedihannya. Ia tertawa-tawa lepas bersama teman-temannya. Arus sungai di tengah masih saja deras. Badru dan kawan-kawanya tak perduli bahwa hari itu mereka kembali tak bisa pulang kerumah terhalang arus sungai yang deras.
* * *
Setiap pagi saat waktunya berangkat sekolah Badru dan 15 kawan lainnya yang tinggal di Desa Simpang berdiri di pinggir sungai. Suara arus sungai bergemuruh, ilalang dan semak masih basah oleh embun pagi. Setelah orang-orang dewasa memastikan bahwa arus sungai aman untuk diseberangi, mereka bersorak riang sambil melepaskan seragam sekolah mereka. Anak laki-laki biasanya tanpa malu-malu bertelanjang, melipat seragam dengan asal-asalan, menitipkannya pada orang dewasa, lalu terjun bebas ke sungai.
Orang-orang yang biasa menyeberang sungai disini memiliki cara sederhana untuk menandai apakah arus sedang membahayakan atau tidak. Pertama adalah bila awan di arah hulu Sungai Cikaengan terlihat hitam tebal, itu adalah pertanda bahwa di kawasan hulu akan atau sedang turun hujan, maka air sungai yang tenang bisa saja naik secara tiba-tiba. Kedua adalah bila air sungai berwarna keruh coklat berlumpur yang menandakan bahwa arus sungai meluncur sangat deras sehingga lumpur didasar sungai teraduk-aduk seperti susu coklat di dalam gelas. Ketiga, ini adalah cara yang paling sederhana yaitu bila batu besar bulat mirip bakpau yang tepat berdiri di tengah sungai tak nampak maka itu berarti ketinggian air sedang naik dan air sungai tak akan mengijinkan orang untuk melintasinya.
Penduduk desa seolah begitu kenal dengan tanda-tanda alam, inilah salah satu kearifan khas warga desa. Bandingkan dengan orang yang hidup di kota besar, apakah mereka mengenali tanda-tanda alam? Apa yang orang kota lakukan ketika suhu udara makin hari makin terasa panas? Orang kota malah terus menggusur ruang terbuka hijau, menebangi pohon-pohon besar di pinggir jalan yang sudah hidup di tempatnya sebelum nenek mereka lahir. Orang kota hidup dengan cara yang aneh, saat udara terasa makin panas mereka lebih memilih memasang ac atau air conditioner di tiap ruang di rumah, di kantor, di gedung-gedung, di tempat perbelanjaan, bahkan hingga di tempat ibadah! Mereka tak suka menanam pohon di pekarangan. Benar-benar cara hidup yang aneh.
Meski tak menyadarinya Badru dan teman-teman kecilnya sesungguhnya juga mewarisi semangat mencintai lingkungan. Mereka mandi di sungai Cikaengan tanpa sabun mandi. Tahukah kamu apa yang dikatakan para orang tua mereka tentang sabun mandi? Bukan karena tak mampu membeli. Mereka berprinsip mandi adalah membersihkan diri, jangan sampai diri sendiri bersih namun sungai malah dikotori oleh kandungan deterjen yang ada dalam sabun. Karena prinsip itulah mereka mandi tanpa sabun.
Mandi bagi Badru dan temannya berarti nyebur ke sungai, berenang, dan bermain air. Saat menyeberangi sungai untuk berangkat ke sekolah, mereka yang sebelumnya sudah mandi, berarti mandi lagi. Tak ada masalah bagi anak-anak ini berapa kali harus mandi setiap harinya. Kadang mereka bisa mandi 6 hingga 7 kali dalam sehari! Saking asyiknya kadang saat menyeberang sungai, mereka bermain-main dengan air sungai hingga lupa waktu. Hasilnya tentu saja mereka terlambat untuk sampai ke sekolah. Lucunya adalah bila waktu pelajaran telah dimulai, namun murid-murid di kelas belum lengkap maka seorang guru akan menyusul ke pinggir sungai, berteriak-teriak memanggil Badru dan kawannya untuk segera masuk sekolah. Kalau sudah begini tak ada lagi yang berani tertawa, bahkan tak jarang dari sungai mereka langsung meloncat menuju daratan, menyambar seragam mereka yang ditaruh di batu kering, berlari sekuat tenaga menuju sekolah, tak sadar bahwa sesungguhnya mereka belum berpakaian.
Tak seperti sekolah kebanyakan, kondisi kelas-kelas SDN Karyasari amat sangat memprihatinkan. Jangan pernah bandingkan kondisinya dengan SD swasta di kota besar, terlebih sekolah dengan taraf internasional. Membandingkan SDN Karyasari dengan sekolah taraf internasional seperti membandingkan kecepatan motor sport 500cc yang dikemudikan Valentino Rossi dengan sepeda kumbang yang dinaiki Umar Bakri.
Murid-murid disini tak ada yang kenal mesin canggih bernama komputer. Mereka hanya kenal namanya dan hanya pernah melihat bentuknya dari foto sebuah majalah. Dari melihat foto dan cerita tentang kecanggihan alat ini saja sudah cukup membuat mereka terbengong-bengong. Dari seorang guru yang pernah belajar menggunakan komputer, cerita kecanggihan komputer beredar cepat ke pelosok desa, padahal sang guru hanya menjelaskan bahwa komputer bisa menggantikan mesin tik sehingga jari-jari tangan tidak terlalu pegal dan tidak menimbulkan suara berisik.
Atap asbes sekolah tak layak lagi dijadikan sebagai peneduh dari panas dan hujan. Bila panas terik, sinar matahari menerobos masuk dari celah asbes yang pecah, seolah sinar mentari ingin ikut belajar di dalam kelas. Sementara bila hujan kondisinya lebih memprihatinkan lagi. Murid-muird dalam kelas harus saling merapat ke depan kelas, karena bagian belakang kelas mereka basah bukan oleh bocoran air hujan tapi ada air terjun masuk ke dalam kelas!
Lantai kelasnya bukan lantai keramik apalagi marmer yang halus. Lantainya adalah ubin tegel kasar yang sebagian mulai pecah-pecah. Beberapa bagian tak berubin dan hanya diplester dengan adonan semen yang kompisisinya lebih sedikit dibandingkan pasir, hasilnya adalah plesteran kasar bergelombang tak rata.
Murid-murid sekolah ini sedikit yang berangkat dengan sepasang sepatu dikaki. Bila diurutkan jumlah paling banyak adalah murid yang mengenakan sandal jepit, urutan kedua adalah mereka yang bertelanjang kaki alias tanpa alas kaki, dan terakhir adalah jumlah paling sedikit yang hitungannya tak lebih dari banyaknya jari-jari di dua tangan, yaitu murid yang memakai sepatu. Diantara murid yang memakai sepatu pun sebenarnya sepatu mereka tidak masuk kategori pantas.
Ada diantara mereka yang tetap bangga memakai sepatu meski solnya seolah seperti mulut buaya yang terbuka lebar, ada juga yang beberapa jarinya mulai menelusup keluar dari lubang yang ada di bagian depan sepatu.
Meski demikian kaki-kaki mereka seolah tak ingin berhenti masuk ke dalam kelas, karena itulah ruang dimana mereka mengisi hati dan pikiran dengan ilmu pengetahuan yang berguna. Yang juga memprhatinkan adalah saat hujan dimana jalan-jalan desa yang dilalui kaki-kaki kecil mereka berubah menjadi jalan becek berlumpur, lumpur-lumpur itulah yang menempel di langkah mereka dan mereka bawa hingga ke dalam kelas, alhasil lantai kelas mereka tak jauh beda dengan lapangan tanah tempat mereka bermain bola.
Begitulah kondisi yang terlihat. Meski demikian apa pun alas kaki mereka atau tanpa alas kaki sekalipun, semua diterima dengan senyum ramah oleh para guru saat mereka masuk ke dalam ruang kelas. Senyum ramah menyambut calon-calon penerus masa depan bangsa.
* * *

Pagi masih dingin dan basah, Badru berdiri lesu di pinggir sungai. Baju putih yang dikenakannya tak terlihat bersih, maklumlah baju itu adalah baju yang dikenakannya sejak dua hari sebelumnya. Celananya masih celana merah yang sama, yang resletingnya rusak. Bocah kecil ini tak peduli dengan sisa hujan yang masih rintik setitik demi setitik menetesi kepalanya. Badru membayangkan bahwa teman-temannya disekolah pada saat yang sama pasti sedang menyiapkan upacara Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Namun Sungai Cikaengan seolah marah, berwarna coklat, lumpur teraduk-aduk diderasnya arus, awan di arah hulu sungai terlihat hitam tebal, dan batu besar bundar mirip bakpau yang berdiri di tengah sungai tak nampak, genap sudah semua tanda bahwa sungai tak mungkin diseberangi. Badru hanya membayangkan seandainya ada jembatan diatas sungai itu, Ia dan teman-temannya tentu dapat segera berlari menuju sekolah.
Titik-titik gerimis makin deras. Hanya pandangan matanya yang sampai ke seberang sungai. Sungai bertambah marah dengan gemuruhnya. Matanya tak berkedip meski hujan mulai membasahi kepala, wajah dan matanya. Ia beranjak pulang, langkahnya lesu, matanya basah oleh hujan bercampur air mata.
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2007
Sejak awal 2007 telah banyak media, baik media cetak maupun media elektronik yang memberitakan perjuangan Badru dan kawan-kawannya untuk mendapatkan pendidikan. Namun hingga kini belum ada “hasil” atau perubahan yang berarti. Badru dan 15 kawannya tetap harus menyeberang sungai untuk sampai ke sekolah. Tetap saja air mengalir deras kedalam kelas saat hujan datang. Semuanya belum ada yang berubah.
Yang berarti bagi Badru dengan kehadiran media di kampung dan sekolahnya adalah cita-citanya. Bila ditanya cita-citanya, dengan mantap ia akan menjawab: “menjadi karyawan tv.” Maksudnya adalah reporter atau kameramen.
Ia begitu bersemangat ketika saya mempersilahkannya untuk mencoba kamera digital yang saya bawa. Dengan hanya bermodalkan sedikit arahan, ia begitu bangga menangkap berbagai suasana di sekolahnya.
Saya pikir hanya itulah “perubahan” konkrit yang dapat saya sumbangkan bagi Badru. Hanya meminjamkan kamera itulah yang sedikit atau banyak akan menginspirasi Badru untuk terus mengejar cita-citanya. Siapa tahu, suatu waktu dimasa depan, Badru akan menggantikan Oscar Motulloh atau Arbain Rambey.
Badru terduduk lesu diatas batu besar di pinggir sungai. Baju putihnya yang dekil disampirkan di pundak kirinya. Ukuran tubuhnya yang kecil kurus tampak kontras dengan batu kali yang didudukinya. Celana pendek merah yang dikenakannya tak jauh beda kumalnya dengan bajunya. Dengan posisi duduk di atas batu, jelas terlihat ada jahitan tangan tepat di tengah diantara dua pahanya, jahitan dengan benang warna putih yang simpang siur membuktikan bahwa jahitan itu dibuat oleh tangan yang tak terbiasa melakukan tugas jahit menjahit. Resleting celana Badru sudah lama rusak, upaya untuk menutupinya adalah dengan memakai peniti yang disematkan ditengah-tengah resleting, meski demikian angin masih bebas berhembus ke dalam celananya lewat celah itu.
Lamunan Badru, bocah kelas lima SD itu tak terganggu dengan keceriaan teman-temannya yang berenang, meloncat, menyelam, dan saling memercikkan air di pinggiran sungai itu. Di tengah sungai arus mengalir deras, alirannya berbuih-buih ketika manabrak batu-batu yang beraneka ukuran, suara arus sungai mengalahkan celoteh dan keriangan anak-anak itu.
Badru bocah kurus berambut lurus memang pantas bersedih. Sudah 4 hari ia tak bisa pulang ke rumah orang tuanya yang terletak di seberang sungai tepatnya di Kampung Bantar Bodas, Desa Simpang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Beginilah resiko yang harus dijalaninya karena ia bersekolah di SDN Karyasari, Kecamatan Bojonggambir, Tasikmalaya. Antara rumah dan sekolahnya dipisahkan oleh Sungai Cikaengan selebar tak kurang dari 70 meter. Ia terpaksa memilih bersekolah di sekolah desa seberang sungai karena itulah sekolah dasar yang terdekat dari rumahnya.
Saat itu arus sungai begitu deras, tak ada orang yang mampu menyeberanginya, siapa pun yang nekat dan sekuat apapun langkah orang itu, ia pasti akan terseret arus, terlebih anak-anak. Kawan-kawan Badru masih tetap asyik bermain di pinggiran, membunuh waktu sambil berharap air sungai bisa surut secara tiba-tiba dan mereka bisa berlari melintasi sungai pulang ke rumah. Badru masih diam di tempat, seolah ingin menemani batu besar yang telah puluhan tahun diam ditempatnya yang saat ini didudukinya.
Lamunan Badru akhirnya hapus, saat seorang kawannya dengan tiba-tiba mendorong dari belakang. Badru terpental dan meluncur ke sungai. Kawan-kawan lainnya yang ada di pinggiran sungai bersorak-sorak. Saat tubuh Badru yang tak siap itu jatuh ke sungai, airnya berpendar seperti air dalam baskom yang dihentakkan tiba-tiba. Tubuh Badru tenggelam, namun hingga riak air kembali tenang Badru tak juga muncul. Melihat kejadian itu, tak ada lagi mulut bersorak, tak ada lagi tangan bertepuk. Badru tenggelam, hilang. Teman-temannya hanya mematung. Namun disaat anak-anak berpikir bahwa Badru mungkin celaka, tiba-tiba Badru meloncat dari dalam air, sambil memutar-mutar baju seragam yang basah di tangan kanannya. Rambutnya yang basah menutupi sebagian wajahnya, mulutnya monyong-monyong seperti ikan mas yang diangkat dari air.
“Wuaaaa…” Badru berteriak seolah merasa dirinya adalah Rambo yang muncul dari sungai lalu memberondongkan senjatanya ke arah musuh. Teman-temannya menutup mata dan ada yang menghindar cipratan air yang ditimbulkan dari putaran baju basahnya. Mereka kembali meloncat ke arah sungai dan bersama-sama main perang air.
Didalam air Badru lupa akan kesedihannya. Ia tertawa-tawa lepas bersama teman-temannya. Arus sungai di tengah masih saja deras. Badru dan kawan-kawanya tak perduli bahwa hari itu mereka kembali tak bisa pulang kerumah terhalang arus sungai yang deras.* * *
Setiap pagi saat waktunya berangkat sekolah Badru dan 15 kawan lainnya yang tinggal di Desa Simpang berdiri di pinggir sungai. Suara arus sungai bergemuruh, ilalang dan semak masih basah oleh embun pagi. Setelah orang-orang dewasa memastikan bahwa arus sungai aman untuk diseberangi, mereka bersorak riang sambil melepaskan seragam sekolah mereka. Anak laki-laki biasanya tanpa malu-malu bertelanjang, melipat seragam dengan asal-asalan, menitipkannya pada orang dewasa, lalu terjun bebas ke sungai.
Orang-orang yang biasa menyeberang sungai disini memiliki cara sederhana untuk menandai apakah arus sedang membahayakan atau tidak. Pertama adalah bila awan di arah hulu Sungai Cikaengan terlihat hitam tebal, itu adalah pertanda bahwa di kawasan hulu akan atau sedang turun hujan, maka air sungai yang tenang bisa saja naik secara tiba-tiba. Kedua adalah bila air sungai berwarna keruh coklat berlumpur yang menandakan bahwa arus sungai meluncur sangat deras sehingga lumpur didasar sungai teraduk-aduk seperti susu coklat di dalam gelas. Ketiga, ini adalah cara yang paling sederhana yaitu bila batu besar bulat mirip bakpau yang tepat berdiri di tengah sungai tak nampak maka itu berarti ketinggian air sedang naik dan air sungai tak akan mengijinkan orang untuk melintasinya.
Penduduk desa seolah begitu kenal dengan tanda-tanda alam, inilah salah satu kearifan khas warga desa. Bandingkan dengan orang yang hidup di kota besar, apakah mereka mengenali tanda-tanda alam? Apa yang orang kota lakukan ketika suhu udara makin hari makin terasa panas? Orang kota malah terus menggusur ruang terbuka hijau, menebangi pohon-pohon besar di pinggir jalan yang sudah hidup di tempatnya sebelum nenek mereka lahir. Orang kota hidup dengan cara yang aneh, saat udara terasa makin panas mereka lebih memilih memasang ac atau air conditioner di tiap ruang di rumah, di kantor, di gedung-gedung, di tempat perbelanjaan, bahkan hingga di tempat ibadah! Mereka tak suka menanam pohon di pekarangan. Benar-benar cara hidup yang aneh.
Meski tak menyadarinya Badru dan teman-teman kecilnya sesungguhnya juga mewarisi semangat mencintai lingkungan. Mereka mandi di sungai Cikaengan tanpa sabun mandi. Tahukah kamu apa yang dikatakan para orang tua mereka tentang sabun mandi? Bukan karena tak mampu membeli. Mereka berprinsip mandi adalah membersihkan diri, jangan sampai diri sendiri bersih namun sungai malah dikotori oleh kandungan deterjen yang ada dalam sabun. Karena prinsip itulah mereka mandi tanpa sabun.
Mandi bagi Badru dan temannya berarti nyebur ke sungai, berenang, dan bermain air. Saat menyeberangi sungai untuk berangkat ke sekolah, mereka yang sebelumnya sudah mandi, berarti mandi lagi. Tak ada masalah bagi anak-anak ini berapa kali harus mandi setiap harinya. Kadang mereka bisa mandi 6 hingga 7 kali dalam sehari! Saking asyiknya kadang saat menyeberang sungai, mereka bermain-main dengan air sungai hingga lupa waktu. Hasilnya tentu saja mereka terlambat untuk sampai ke sekolah. Lucunya adalah bila waktu pelajaran telah dimulai, namun murid-murid di kelas belum lengkap maka seorang guru akan menyusul ke pinggir sungai, berteriak-teriak memanggil Badru dan kawannya untuk segera masuk sekolah. Kalau sudah begini tak ada lagi yang berani tertawa, bahkan tak jarang dari sungai mereka langsung meloncat menuju daratan, menyambar seragam mereka yang ditaruh di batu kering, berlari sekuat tenaga menuju sekolah, tak sadar bahwa sesungguhnya mereka belum berpakaian.
Tak seperti sekolah kebanyakan, kondisi kelas-kelas SDN Karyasari amat sangat memprihatinkan. Jangan pernah bandingkan kondisinya dengan SD swasta di kota besar, terlebih sekolah dengan taraf internasional. Membandingkan SDN Karyasari dengan sekolah taraf internasional seperti membandingkan kecepatan motor sport 500cc yang dikemudikan Valentino Rossi dengan sepeda kumbang yang dinaiki Umar Bakri.
Murid-murid disini tak ada yang kenal mesin canggih bernama komputer. Mereka hanya kenal namanya dan hanya pernah melihat bentuknya dari foto sebuah majalah. Dari melihat foto dan cerita tentang kecanggihan alat ini saja sudah cukup membuat mereka terbengong-bengong. Dari seorang guru yang pernah belajar menggunakan komputer, cerita kecanggihan komputer beredar cepat ke pelosok desa, padahal sang guru hanya menjelaskan bahwa komputer bisa menggantikan mesin tik sehingga jari-jari tangan tidak terlalu pegal dan tidak menimbulkan suara berisik.
Atap asbes sekolah tak layak lagi dijadikan sebagai peneduh dari panas dan hujan. Bila panas terik, sinar matahari menerobos masuk dari celah asbes yang pecah, seolah sinar mentari ingin ikut belajar di dalam kelas. Sementara bila hujan kondisinya lebih memprihatinkan lagi. Murid-muird dalam kelas harus saling merapat ke depan kelas, karena bagian belakang kelas mereka basah bukan oleh bocoran air hujan tapi ada air terjun masuk ke dalam kelas!
Lantai kelasnya bukan lantai keramik apalagi marmer yang halus. Lantainya adalah ubin tegel kasar yang sebagian mulai pecah-pecah. Beberapa bagian tak berubin dan hanya diplester dengan adonan semen yang kompisisinya lebih sedikit dibandingkan pasir, hasilnya adalah plesteran kasar bergelombang tak rata.
Murid-murid sekolah ini sedikit yang berangkat dengan sepasang sepatu dikaki. Bila diurutkan jumlah paling banyak adalah murid yang mengenakan sandal jepit, urutan kedua adalah mereka yang bertelanjang kaki alias tanpa alas kaki, dan terakhir adalah jumlah paling sedikit yang hitungannya tak lebih dari banyaknya jari-jari di dua tangan, yaitu murid yang memakai sepatu. Diantara murid yang memakai sepatu pun sebenarnya sepatu mereka tidak masuk kategori pantas.
Ada diantara mereka yang tetap bangga memakai sepatu meski solnya seolah seperti mulut buaya yang terbuka lebar, ada juga yang beberapa jarinya mulai menelusup keluar dari lubang yang ada di bagian depan sepatu.
Meski demikian kaki-kaki mereka seolah tak ingin berhenti masuk ke dalam kelas, karena itulah ruang dimana mereka mengisi hati dan pikiran dengan ilmu pengetahuan yang berguna. Yang juga memprhatinkan adalah saat hujan dimana jalan-jalan desa yang dilalui kaki-kaki kecil mereka berubah menjadi jalan becek berlumpur, lumpur-lumpur itulah yang menempel di langkah mereka dan mereka bawa hingga ke dalam kelas, alhasil lantai kelas mereka tak jauh beda dengan lapangan tanah tempat mereka bermain bola.
Begitulah kondisi yang terlihat. Meski demikian apa pun alas kaki mereka atau tanpa alas kaki sekalipun, semua diterima dengan senyum ramah oleh para guru saat mereka masuk ke dalam ruang kelas. Senyum ramah menyambut calon-calon penerus masa depan bangsa.
* * *

Pagi masih dingin dan basah, Badru berdiri lesu di pinggir sungai. Baju putih yang dikenakannya tak terlihat bersih, maklumlah baju itu adalah baju yang dikenakannya sejak dua hari sebelumnya. Celananya masih celana merah yang sama, yang resletingnya rusak. Bocah kecil ini tak peduli dengan sisa hujan yang masih rintik setitik demi setitik menetesi kepalanya. Badru membayangkan bahwa teman-temannya disekolah pada saat yang sama pasti sedang menyiapkan upacara Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Namun Sungai Cikaengan seolah marah, berwarna coklat, lumpur teraduk-aduk diderasnya arus, awan di arah hulu sungai terlihat hitam tebal, dan batu besar bundar mirip bakpau yang berdiri di tengah sungai tak nampak, genap sudah semua tanda bahwa sungai tak mungkin diseberangi. Badru hanya membayangkan seandainya ada jembatan diatas sungai itu, Ia dan teman-temannya tentu dapat segera berlari menuju sekolah.
Titik-titik gerimis makin deras. Hanya pandangan matanya yang sampai ke seberang sungai. Sungai bertambah marah dengan gemuruhnya. Matanya tak berkedip meski hujan mulai membasahi kepala, wajah dan matanya. Ia beranjak pulang, langkahnya lesu, matanya basah oleh hujan bercampur air mata.
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2007
Diposting oleh
kangbahra
di
11.59
0
komentar
Label: Pakta Realita
Langganan:
Postingan (Atom)
