Kamis, 18 Desember 2008

Bojonggambir

e

Bojonggambir
Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail

Letak Geografis
Jarak Kacamatan Bojonggambir ke Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya 63 Km. Luas Wilayah Kecaratan Bojonggambir 12.261 Ha. Ketinggian dari permukaan laut adalah 700 Mdpl. Topografi datar 40 %, Perbukitan 60 %, Curah hujan rata-rata 2.096 Mim setiap tahun. Suhu rata-rata 31 derajat celcius..

Batas Administrasi
Sebelah Utara Kec. Taraju Sebelah Timur Kec. Sodong Hilir Sebelah Selatan Kec. Bahtarkalong & Kec. Culamega Sebelah Barat Kec. Kabupaten Garut

Penggunaan Lahan
- Sawah: 1.822 Ha
- Kolam : 40 Ha
- Hutan Negara : 2.040 Ha
- Ladang: 5. 79 Ha
- Perkebunan Teh Rakyat: 3.006 Ha
- Perkebunan Teh Swasta: 83 Ha

Jumlah Desa
1. Desa Bojonggambir
2. Desa Wandasari
3. Desa Mangkonjaya
4. Desa Bojongkapol
5. Desa Pedangkamulyan
6. Desa Campaksad
7. Desa Ciroyom
8. Desa Purwaraharja
9. Desa Kertanegia
10.Desa Girimukti

Jumlah penduduk
Jumlah Penduduk 36.167 orang terdiri dari laki-laki 18.148 orang dan perempuan 18.029 orang. Jumlah KK. 10.647.

Menurut Pendidikan:
- S3 : 0 Orang
- S2 : 2 Orang
- S1 : 36 Orang
- SMU/Sederajat: 527 Orang
- SLTP/Sederajat: 1.938 Orang
- SD/Sederajat: 8.056 Orang

Menurut Pekerjaan
- PNS : 1,39 % / 503 Orang
- Petani : 72 % / 6.926 Orang
- Pedagang : 2,45 % / 886 Orang
- BuruhTani :14,13 % / 1.924 Orang
- TNI/POLRI : 0,03 % / 11 Orang

Potensi Unggulan
Perkebunan Teh Rakyat seluas 3.006 Ha, komoditas lainnya seperti pisang, mangga dan alpukat ter sedia lahan 2.500 Ha dari areal 5.170 Ha, dan gula aren

SURAT UNTUK PERTIWI



"Astagfirullah!..." tubuhku teguncang saat terbangun dari tidur, "Ya Rabbi mimpi apa aku ini." Kuraih konsentrasiku dan kujemput gambaran mimpiku tadi yang menajuh dari ingatan. "Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji'un. Ya Rabbi kenapa di Desaku terjadi kemarau yang begitu panjang yang menyebabkan warga menderita. Ya Allah semoga mimpiku ini bukan kenytaan" tukas hatiku yang baru saja mengenang mimpi jelek yang datang ditidurku. kuusap kening dengan tangan kananku yang basah dengan peluh. Malam itu angin berhembus kencang membawa bau tanah kering dari sohro belakang kos tempakku tinggal, menorobos jendela kamar dengan angkuhnya, menusukan hawa dingin kesekujur tubuhku kala terbalut selimut usang yang aku beli dari Atabah tiga tahun lalu. Suara hewan malam di taman depan rumah kosku saling sahut-menyahut menyambut musim dingin di negri kinanah ini. Deru kendaran dan nut-notnya klakson tidak henti-hentinya dari pagi samapai saat ini, pertanda sibuknya aktivitas manusia di dunia ini yang kadang hanya untuk menyelamatkan satu nyawa orang yang dicintainya. Jam 2:15 menit gumamku sambil melihat kembali jam dinding yang masih tergantung seperti semula sebelum aku tidur, hanya suara detak jarum sekonnya yang terus berputar untuk membentuk menit, menitpun saling berkait menyatu dan jadilah jam, sebagi informasi bagi siapa saja yang menatapnya.

Kuangkat selimut usang itu dan kulipat menjadi empat lipat, ku dorong dua pasang kakiku supaya turun dari ranjang kayu yang sudah mulai agak reyot. "Alhamdulillah ya Allah Engkau masih memberikan umur untuk mengarungi hidup ini" ucap bibirku mengucap syukur, kudorong daun jendela yang menjadi benteng pertahanan dari serangan angin sohro yang dingin itu brak jendela itu terbuka, angin sohro pun kembali menampar wajahku yang melongok keluar, tapi aku tidak mempedulikan serangan angin itu yang kulihat sekarang adalah pagar benteng yang mengelilingi temapat kosku, masih tetap seperti biasa berdiri tegak sebagai patroli yang dipasang oleh manusia, tembok itu masih berwarna putih yang kotor dengan debu-debu gurun, karena jarang di siram. Lampu neon yang menunpang diatas tiangpun masih berwarna putih membiasakan cahaya di sekitarnya. Kuangkat kepalaku melihat langit yang berhiaskan kerlap-kerlip bintang yang kadang redup terhalang awan yang numpang lewat dimukanya.

Lamunanku kembali menjemput, mimpi buruk yang telah berusaha kami lupakan hadir kembali dibenakku. "Kenapa Ya Allah kuimpikan daerah kelahiranku yang Aku cintai begitu banyak penderitaan, kekeringan di sana sini, semoga ini bukan pertanda buruk situasi di negriku" ujar lamunanku membisikan mimpi tadi. "Seandainya aku hidup di Mesir ini masa Nabi Yusup as, tentu hari esok aku akan menemuinya untuk mena'wil mimpi yang menyesakan dadaku" tandas lamunanku. Akupun tersadar ketika tiba-tiba angin sohro itu menampar kembali dengan kencangnya dan entah yang keberpa kalinya. "Astagfirullah kenapa aku terbawa lamunan." Kesadaranku menjemput.

Masih di sepertiga malam itu Kugiring kedua kaki menuju kamar mandi, kubasahi wajahku yang penuh dengan noda dan dosa yang disengaja atau yang tidak aku sadari "Ya Allah putihkan wajahku di hari Engkau putihkan wajah-wajah kekasih-Mu dan jangan-Lah Engkau hitamkan wajahku dihari Engkau hitamkan wajah musuh-musuh-Mu" Ku bungkus tubuhku dengan baju koko dan sarung, akupun takbir, ruku dan bersujud disepi malam itu, kuangkat kedua tanganku menengadah dengan penuh harap dan pinta kepada yang maha kuasa "Ya Robbi Aku ini hamba yang lemah yang tidak mampu melakukan segala apapun kecuali apa yang telah Engkau tuliskan bagiku, Ya Allah semoga Engkau mengampuni dosaku dosa ibu bapaku, dosa guru-guruku, dosa sanak saudaraku dan dosa kaum muslimin. Ya Allah semoga Engkau memberikan kesejahteraan bagi diriku, orang tuaku dan negriku, semoga penduduk negri kami menjadi orang yang ahli bersyukur dan semoga negri kami menjadi negri yang sejatera."

Masih di seper tiga malam itu aku teringat akan sebuah kiriman dari Emakku tercinta yang dititipkan kepada Bang Ihsan yang kemarin sore tiba di Mesir setelah pulang kampung untuk menghadiri pernikahan adiknya. Emakku memang tidak menitip uang ratusan dollar dan juga tidak mengirim graman emas permata, tapi hanyalah selemabar kertas yang telah di penuhi tulisan tangan hurup sambung ciri has keluaran SR tahun 60-an. Kubuka lipatan kertas yang tadinya tertutup amplop warna putih itu.

12 Agustus 2007

Untuk Ananda, Taupik. M

di

Kairo, Mesir

Pik! Anak Ema yang baik hati. Bagaimana kabarmu? Semoga selamanya kamu sehat wal afiat tidak kurang sesuatu apapun dan dalam lindungan Allah yang Maha agung. Du'a Ema yang akan selalu menyertaimu anakku yang sedang memcari ilmu di negri yang sangat jauh dari kampong halaman kita, kata orang di negri tempat hidupnya para Nabi.

Opik! Anak Ema yang selalu hadir di hati Ema siang ataupun malam, kadang Ema merasa takut kehilangan diri kamu wahai anaku yang penaat dan selalu membantu orang yang sedang kesusahan, Ema masih ingat kamu itu anak Ema yang punya cita-cita yang mulia.

Opik! apakah kamu suka demo dengan teman-temanmu, seperti temanmu yang ada di negri ini, katanya membela rakyat dan memperjuangkan keadilan, Ahh Pik Ema kurang paham Kenapa membela rakyat kecl itu mesti dengan demo kenapa mereka tidak turun kemasyarakat untuk sekedar mengajak anak-anak desa supaya bisa menulis yang namanya kebenaran. Opik! Ema yakin kamu lebih paham tentang arti kehidupan masa sekarang, Ema itu terlalu bodoh dan tidak tahu apapun yang di kerjakan orang-orang yang disebut mahasiswa. Pik! ataukah kamu hanyalah seorang pendiam yang tidak tahu menahu tentang kehidupan masyarakat negri ini, bahkan lengahnya pejabat kita itu tidak pernah kau ingatkan.

Pik Ema takut kamu itu telah melupakan Ema yang telah melahirkanmu, telah melupakan ayahmu yang memberi kamu nama yang sangat menyangimu, bahkan tanah warisanya telah Ema jual untuk ongkos keberangkatanmu keluar negri. Ema juga takut kalau kamu tidak lagi mencintai negrimu yang belasan tahun kamu hidup di atasnya.

Anakku negeri kita sekarang sedang menangis tersedu meminta seseorang untuk menjadi pahlawan, yang berjuang dengan ikhlas menylelamatkannya dari kejahatan tangan jahil yang tiap hari mengusik ketenangannya. Anaku saying, bahkan negri kita juga sedang marah melihat moral-moral bejad yang tidak tahu mengapa mendarah daging di negri kita yang dulu selalu tersenyum itu.

Pik! kamu mesti tahu setelah sholat magrib Ema itu merasa sedih hati, bahkan air mata Ema menetes diatas tempat sujud, Pik! dulu kamu dan teman–teman kamu mengaji menghapal surat-surat alqur'an di surau samping rumah kita itu, kini semua tinggal cerita, anak seusiamu dulu sekarang bukan pena ataupun buku yang mereka pegang tapi alat–alat teknologi moderen yang mampu mengrakan gambar mobil sampai gambar patung mampu bermain sepak boala. Pik! dimana sekarang orang yang mengajarkan ilmu agama walaupun tampa upah. Ema sangat berharap cepatlah pulang kenegri asalmu unutuk memjadi seorang pahlawan yang di cintai warga, jadilah kamu itu orang yang ikhlas berjuang mengangkat martabat negeri kita, supaya warganya tahu arti kebenaran dan tahu rasa Syukur.

Wassalam

Emamu

Zainab

***

Matahari pagi menyapa hangat ketika aku melangkahkan kaki menuju halte bis mahhatah Tajamu, cahaya keemasan sang mentari itu mejadi sebuah hiasan alam yang setiap hari kusaksikan, desir angin pagi memberikan kesegaran yang mengingatkan akan kelemahan jasadku dan banyaknya nikmat sang maha kuasa. Lari kencangnya El-Traco membawa tubuhku ke kampus Al-azhar di Darrosah, di sanalah aku kuliah mencari ilmu.

Sampailah aku di gerbangnya setelah memperlihatkan kartu mahasiswa kepada petugas, akupun masuk untuk mengikuti muhadarah sebagai rutinitas terpenting bagi maha siswa di kampus ini, yang kadang para mahsiswa menganggapnya hal sepele. Setelah muhdoroh beres akupun bergegas menuju mesjid Al-Azahr untuk melakukan solat dzuhur. Setelah beres shloat keroncongan perutku menyuruhku untuk mengisinya, akupun pergi kesebuah Matham, setiba di matham itu aku pun mengucapkan salam kepada penjaga warung itu "Assalamualikum". "Wa alaikum salam" jawabnya penuh keramahan. "Izzayak Ya Ahmad Sukarno" dia mendahuluiku menyapa "Alhamdulillah Quaisy" jawabku. Memang sudah menjadi kebisaan bagi orang Mesir bila menyapa orang Indonesia dengan sebutan Ahmad Sukarno mengingatkan kita kepada salah seorang presiden RI dan pahlawan proklamasi yang pernah mengadakan perundingan NonBlok dengan presiden Mesir Gammal Abdul Nasser. Setelah beres makan akupun kembali ke Mesjid untuk menunggu sholat ashar, aku duduk termenung mengingat kembali akan mimpi yang malam tadi menemuiku. Aku merasa mimpi tersebut adalah bisikan pertiwi yang memangil-manggil untuk di sayangi. Tanpa kusadari tanganku mengambil secarik ketas dari tasku penapun sudah ada digenggamanku, tidak terasa tanganku bergoyang menuliskan beberapa patah kalimat yang aku tujukan buat pertiwi.

14 agustus 2007

Untuk Pertiwi,

Ema! terimaksih atas kabar yang telah Ema Informasikan kepadaku, saya juga mengucapkan terimakasih kepada Ema yang telah memberikan kabar tentang Pertiwi yang selalu aku cintai. Ema, Pertiwi! Kabarku sekarang ini sehat tidak kurang sesuatu apapun, mungkin ini berkat doa semuanya yang selalu menyertaiku.

Pertiwi kenapa selama ini kamu terus bersedih, bukanya telah banyak orang yang paham akan kebenaran dan keadilan.

Pertiwi, janglah bersedih sebenarnya masih banyak orang yang mencinatimu dan menginginkan kamu tersenyum penuh kebahgiaan. Kabar yang di ceritakan oleh Emaku, tentang keadaan kamu sungguh membuatku bersedih, tapi saya berjanji akan menyelamatkanmu dari tangisan itu. Pertiwi terlalu banyak jasamu bagi saya dan orang-orang yang singgah disana.

Pertiwi kenapa pemerintah kita, sering jahil terhadapmu, bahkan tanpa ragu merusakmu tanpa belas kasihan. Kenapa orang-orang selalu memperingati kemenanganmu, tapi belum bisa menjadikan kamu bahagia.

Pertiwi! Gelarku mahsiswa yang kata orang adalah orang pintar, tapi kami tidak berdaya untuk menyelamatkanmu hanya seorang diri.

Pertiwi! Kalau kamu tahu kenapa teman-temanku suka berdemo, niat mereka itu sayang akan kamu, tapi kadang mereka lupa akan batas dan akhirnya menjadi pertumpahan darah.

Pertiwi, mungkin kamu juga masih ingat demo teman-temanku yang berhasil membahagiakan kamu, reformasi sebuah bukti kegigihan temanku menyelamtkanmu dari tangan penghianat. Bahkan mungkin kamu juga ingat ketika temanku Arif Rahman Hakim gugur dalam Tritura untuk menyuarakan kepentingan bersama.

Pertiwi! peranku sekarang hanyalah belajar mencari bekal untuk menyeka air matamu yang terus membanjiri pipi manismu. Janganlah kamu bersedih karena jumlah temanku, yang diberi gelar mahsiswa bukan satu orang bahkan ribuan orang. Pertiwi! kamu itu adalah yang aku sayangi semoga kamu sejahtera. Pertiwi kamu itu adalah Indonesiaku yang terbentang luas yang sudah seharusnya kamu tersenyum seiring usia merdekamu sudah setengah abad.

Wassalam

Taupik Mahasiswa Indonesia

***

"Allah-hu Akbar Allah-hu Akbar" Suara Muadzin menyadarkan jiwaku yang sedang melamun menuliskan keperihatinan diriku terhadap kesediahan Pertiwi. Pertiwi percayalah aku akan membelamu.

By : Kang Bahra

____________________________________________

Sohro = Gurun Bhs Arab

Mahhatah = Terminal

El-Traco = Angkot

Muhadarah = Pembelajaran

Matham = Rumah makan

Izzayak = Apa kabar

Quaisy = Baik

Aku dan UU



Kian lama sang waktu itu terbang mengepak sayap, tanpa kusadari waktu ujian kini tinggal dalam hitungan hari, seakan dia berlari mengejar dan menghampiriku. Oleh karena itu, les Matematika, bahasa Indonesia, IPA dan IPS yang diadakan di sekolah mulai pukul dua sampai pukul empat sore selalu kuhadiri, karena aku takut tidak lulus UAN nanti, yang akan membuat malu diriku sendiri dan Mama yang menjadi dosen di sebuah universitas terkenal di Bandung.

***

Dreet…dret…dret suara bel berdering dari kantor yang menjadi tanda bahwa proses belajar sudah selesai di laksakan setelah di persilahkan oleh gurunya anak-anak berhamburan dari tiap kelas dengan kegirangan karena mereka akan melepas kejenuhan setelah dari pagi mengikuti pelajaran di kelas, ku tenteng tas dan menuju tempat menuggu angkot untuk pulang dulu sebelum les jam dua nanti. Memang aku setiap hari sebelum les pulang dulu ke rumah karena jarak dari sekolah ke rumah tidak terlalu jauh, cukup naik angkot satu kali saja dan berhenti persis di gerbang rumahku hanya sekedar ganti pakaian dan makan siang.

Ketika makan siang bersama Mama yang kebetulan tidak masuk kampus untuk mengajar, Karena dia tidak punya jadwal hari ini.

“Sayang! mandi dulu, ya! supaya lebih segar dan tidak bau keringat, nanti pakai baju yang baru mamah beli kemarin.“

“Ya, Ma” jawabku singkat.

Aku pun mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian santai yang dibelikan Mama, tidak lagi menggunakan seragam sekolah.

Rok mini berwana coklat dan t-shirt warna ping. Itulah baju dan rok yang baru saja dibelikan Mama,

“Supaya gak ketinggalan zaman dan gak ribet,” ujarnya memberikan komentar terhadap gaun istimewa pilihannya. Aku pun menurutinya karena itu semua keinginan Mamaku tercinta.

***

Sampai di kelas aku menjadi orang yang di perhatikan pak Usep, guru IPA dan dia sering mendekatiku, Aku pun merasa aneh kok pak Usep beraninya menjewel pipiku. Ketika teman–temanku sudah pulang, Aku disuruh menghadap pak Usep dulu di kantor karena ada suatu hal yang harus aku pelajari dan Ia berjanji akan mengantarku pulang.

Setiba di rumah kira–kira pukul lima lebih lima belas menit, seperti biasa kulemparkan tas ke atas tempat tidurku. Setelah makan malam, aku belajar seorang diri karena Mamaku ada pekerjaan yang katanya harus segera di selesaikan.

Setelah beberapa saat aku mempelajari materi yang diajarkan guruku. Ku susun buku–buku yang baru saja di baca, kumatikan lampu belajar yang setia menemaniku, ku ganti dengan lampu tidur yang redup, ku raih bantal guling mungil berwarna putih. Aku pun berbaring tapi tapi kantuk pun tidak kunjung menghampiri. Akupun berkali-kali memjamkankan bibir mata mngayam bulu mata supaya saling berkait yang satu dengan yang lain, tapi tetap kantuk pun tak kunjung datang. Lamunanku menjemput kembali membawaku terbang ke sore tadi. Aku masih ingat permainan aneh yang di praktekkan pak Usep yang katanya hasil belajar dari VCD dan peraktek dari pelajaran IPA. Aku pun keluar menuju kamar mama yang tertutup. Ku dorong gagang pintu dengan pelan, ku peroleh Mamaku sedang ngobrol di ujung telepon genggamnya tidak tahu dengan siapa dia berbicara yang jelas aku mendengar kata–kata yang keluar dari mulut Mamaku.

“Iya jeng walau jumlah kita sedikit kita harus bisa mempertahankan pendapat kita. Jangan ragu kita kan didukung media massa, yang selalu memihak kita. Oh! mereka demo biarin saja walaupun mereka demo dua juta orang, tapi kan media massa tidak memuat mereka. Lagian kita di bayar, ha… ha… ha…” Mamaku tertawa terbahak.

“Pokoknya kamu harus hadir acara seminar besok, kamu kan biasa manggung dan shooting. Mungkin kalo baju saja banyak aturan dari mana penghasilan Lho, ha.. ha… ha… lagian ngapain mereka mikirin pakaian kita, kalo kuat imannya mungkin tak akan ke goda ha… ha… ha…. Makasih ya besok kita ketemu, ingat acaranya di GARDEN HOTEL lantai empat. Met malam…. dahhh.” Ditutupnya telpon genggam yang Mama pegang. Akhirnya mama melirikan kepala kearah pintu tempatku nguping “Halo sayang, ko belum tidur?” Sapa Mamaku mencairkan suasana yang seakan mati tersihir obrolan Mama.

”Nggak ngantuk, "

" kok Mama lama banget nelponya.”

“Maaf sayang, pasti ingin dongeng, kan? ayo masuk!” Ujar Mama.

Aku pun masuk dan menyusupkan wajahku kepangkuan Mama.

“Tunggu sebentar Honey, Mama mau ngetik dulu, Mama janji hanya sepuluh menit.” Sambil mengecup dahiku.

“Asal jangan lama.” Tukasku manja.

Kulihat jari lentik mamaku memijit deretan tombol hurup di keyboard. Mamaku cantik ujar hatiku, tapi aku juga cantik kata pak Usep ketika aku di kantornya.

Ku hampiri Mamaku yang masih sibuk dengan pekerjaanya. Karena Aku sudah tidak sabar ingin menanyakan sesuatu yang terus menggoda ketenanganku.

“Ko lama banget, Tiara sepi.”

“Sabar sayang.”

“Mama, Tiara mau nanya sama Mama, bolehkan?”

“Boleh! tunggu lima menit lagi sayang.” Ucapnya.

“Sayang, duduk dulu sini ya, Mama mau menyelesaikan makalah, sebentar lagi ko, besok Mama mau seminar di Hotel mewah. Tiara mau ikut nggak sama Mama?” Memang Mamaku seorang dosen yang juga banyak mengisi seminar–seminar di tempat luar kampus. Bahkan, aku pun sering dibawanya. Aku merasa senang karena banyak snack enak yang dapat ku cicipi. Walaupun aku tidak faham apa yang dibicarakan orang–orang dewasa itu.

Aku pun melihat laptop yang sedang nyala di hadapan Mama, ku lihat deretan hurup yang terus–menerus ditambahi oleh Mama. Aku mencoba membaca hurup yang paling atas dan ukurannya pun lebih besar daripada hurup-hurup di bawahnya. EMANSIPASI DAN KETIDAKLOGISAN DIBERLAKUKAN UNDANG-UNDANG ANTIPORNOGRAFI. Otak kecilku tidak mampu mencerna kalimat tersebut dan Aku pun tidak bertanya maksudnya kepada Mama. Karena Mama kelihatan sedang serius. Yang akan aku tanyakan sebenarnya bukan dongeng terbaru yang akan diberikan Mama, bukan juga menanyakan deretan hurup yang sedang Mama tulis. Hatiku hanya mau menanyakan permainan aneh yang di lakukan pak Usep di kantor tadi, sampai sekarang masih terasa perih di antara dua pahaku. Kejadian itu terjadi semenjak aku memakai gaun yang serba pendek pilihan Mama. Tidak sempat ku tanyakan pada Mamaku karena kepalaku sudah mulai bersandar pada kursi, tapi masih ku tangkap beberapa kata yang keluar dari Mulut Mamaku.

“Sayang ngantuk yah. Tunggu bentar, kan mau nanya sesuatu pada Mama. Mama mau mematikan dulu laptop.”

***

Tanpa disengaja Aku terbangun ketika Mamaku menidurkanku di atas ranjangnya, sepontan mulutku berkata.

“Mama-mama! Tiara mau nanya.”

“Nanya apa sayang? Tiara kan udah ngantuk.” Ucap Mama sambil mengecup dahiku penuh kasih sayang.

“Nggak Ma!. Tiara penasaran banget.”

“Apa itu sayang?” Mama mulai serius dan beliau biasa kalau diriku ada yang menyakiti sudah barang tentu dia membelaku.

“Tiara di sekolah.”

“Apa ada teman yang jahat sama Tiara?”

“Bukan Ma.”

“Terus Apa Sayang?”

“Pak Usep.”

“Kenapa pak Usep? Minta iuran SPP?”

“Bukan itu Ma, tadi waktu les Tiara make pakaian yang baru dibeli Mama.”

“Iya! Mama tahu. Gima menurut pak Usep? Tiara cantik, kan.?

“Ya! Malah Tiara dipanggil ke kantornya.”

“Terus. Gimana, tiara dihukum?”

“Bukan, malah Tiara diberi permainan yang kata Pak Usep permainan orang dewasa.” Terus kulihat ada sesuatu yang berubah dari mimik Mamaku.

“Anehnya Ma, Tiara masih merasa sakit sampai sekarang. Pak Usep bilang “jangan bilang siapa-sipa”.

Setelah mendengar ceritaku Mama menangis dan berkata dalam tangisnya. ”Maafkan Mama Tiara, semua salah Mama,"

Selanjutnya Mama mengambil telepon genggamnya dan ngobrol tidak tahu dengan siapa, tapi yang ku dengar.

“Maaf… saya tidak bisa mengisi seminar besok… dan selamanya… tidak akan menyuarakan… yang seperti biasa kita suarakan… dan sampaikan kepada perusahaan luar negri itu bahwa, aku tidak mau lagi mengikuti suruhannya… walau berapapun bayaranya…” Setelah menutup teleponnya, Mama mendekapku, air matanya terus mengalir dari sudut matanya ditamabah isakan suara taubat.

''Begitulah Bib Cerita dosenku tentang peristiwa temanaya" ucap Ridho mengahiri ceritanya.

" Iya Aku juga sadar Dho akan akibat dari terbukanya aurat bagi seorang wanita" Habib mengomentari ceriita Ridho.

"Tugas kita sekarang belajar yang baik, peka social dan mengusahakan protes bila terjadi hal yang kan berakibat patal bagi negri kita'' Ridho memberikan sebuah pendapat kepada temanya Habib.

" Ayo Dho dosen dah masuk''

''Oh ya mari kita masuk"

By : Kang Bahra

KUTITIPKAN FITNAH



Malam itu kujelaskan niat kembali ke Mesir, menyelesaikan kuliah yang tersisa satu tahun lagi, demi meraih gelar akademik studiku dari universitas Al-azhar. "Sayang tolong jaga baik-baik dirimu dan anak kita ya" suaraku menyadarkan Teti isteriku yang sedang dibawa lamunan. Badan Isteriku terguncang kaget, Teti pun hanya menjawab dengan anggukan pelan kepalanya. Bagi Teti malam itu terasa beku, terlihat dari sorot matanya yang kosong tanpa sebuah fokus, hanyalah air mata yang membasahi pipi romannya tanda kesedihan hati, kepergianku seakan membawa kabar bahwa malam itu malam terakhir dan tidak akan bertemu untuk selamanya.

"Jangan sedih sayang! Pasti Aa kembali untuk berjumpa dengan kamu dan menyaksikan kelahiran anak kita." Aku memberikan harapan kepada isteriku, yang seperti tidak yakin bahwa kami berdua akan diperjumpakan lagi di suatu saat, dengan bahagia dan dikaruniai seorang momongan yang kudambakan selama ini.

"A bila nanti Aa sudah beres ujian cepat pulang ya" suara Teti berat berselang dengan isakan tangisannya penuh pinta.

"Pasti sayang Aa pulang.'' Kubelai rambut panjangnya, kemudian kuseka pipi Teti yang basah, air mata itu terus mengalir di pipinya, kupegang tanganya dan kutempelkan di atas dadaku.

Malam itu membeku membiarkan aku dan Teti Isteriku melepaskan semua perasaan sebelum perpisahan besok pagi.

@@@

Mentari di upuk timur telah muncul menyemburatkan cahayanya, alam sekitar pun mulai bersolek, memperlihatkan kecantiaka bagi setiap insan yang mau berfikir. Desa kami juga telah rame oleh kegitan warga, para petani mulai berangkat ke sawah dan ke ladang garapanya. Anak-anak sekolah dasar pun rame ngobrol dengan temanya-temanya sepanjang perjalanan mereka ke sekolah.

Walaupun matahari terus tersenyum, tapi bagi Teti semuanya hampa, hatinya merasa berat untuk berpisah dengan diriku. "Sayang! Aa pergi ke Kairo tidak untuk selamanya, namun untuk menjadi orang yang sukses, supaya nanti menjadi contoh bagi anak-anak kita." Sepatah kata pun tidak keluar dari mulut Teti, untuk menanggapi ucapanku, hanyalah air mata yang selalu membasahi pipinya. Masih di pagi itu kupandangi suasana kampungku, bukit-bukit yang berdiri kokoh pun bisu. "Ahh." Kuhela napas dalam-dalam dan kubuang lagi untuk membuang beban di dadaku. Hatiku juga sebenarnya berat untuk berpisah dengan Isteri dan Masyarakat yang mulai mempercayai diriku. Mereka mulai memberi banyak amanah, mulai mengajar di majlis-majlis taklim, di suruh jadi MUI kelurahan, bahkan banyak orang yang meminta di doakan bila sakit atau mau mulai usaha.

"Aa cepatlah pulang bila telah sukses." Suara Isteriku menyadarkan diriku yang sejak tadi melamun.

"Sayang! Aa pasti pulang untuk berjumpa dengan mu dan anak kita."

Setelah bersalaman dan beradu tangis dengan keluarga dan mertuaku, mataku tertuju menatap tajam wajah Isteriku, tetesan air mata tidak mampu dibendungnya, isakanya mengundang rasa ibaku, kudekap dan kucium keningnya, "Sayang Aa pasti akan pulang, doakan semoga Aa sukses." Anggukan kepala yang perlahan menjadi jawaban bagiku. Lambaian tangan itu kini terjadi dan tenggelamlah isteriku di telan jarak yang kian lama kian jauh untuk memeisahkan dirku dan dia sementara waktu.

@@@

Enam bulan sudah diriku tinggal di Negri para anbiya, kerinduan kian membuncah terhadap Isteriku, ingin segera bertemu. Walau selama ini aku saling memberi kabar leawat SMS atau menelponya, kabar terakhir tiga hari yang lalu dia memintaku untuk segera pulang karena usia kandunganya sudah memasuki bulan kedelapan.

Di saat purnama, suara telpon genggamku berdering, tanda ada SMS masuk, kuaraih HPku yang terletak di meja belajar, ternyata SMS dari Isteriku.

"Aa sgra pulang, Teti dah rindu, seprtnya anak kita bntar gi lahir"

Hatiku terguncang membaca SMS tersebut, terlintas di benakku isteriku pasti sudah mulai mersakan tanda-tanda ingin melahirkan. Tanpa ku tunda-tunda malam itu langsung ku balas SMS dari isteriku itu.

"Sayang!1mgu gi A plng, 2 pljr gi blm ujian. Semoga Allah m-beri kekuatan, I miss U"

Hatiku tidak bisa tenang sejak mendapat SMS itu. Hatiku punya firasat ada sesuatu yang dirahasiakan.

Selang dua hari, Hpku berdering kembali tanda SMS masuk, SMS itu dari Isteriku. Kubuka dengan hati penuh Tanya.

"Aa! Teti hnya bisa m-doakan moga Aa m-jadi org sukses, Aa tak usah plng, Teti tkt kta tkn b-temu, Teti titipkan moga ank kita kelak m-jadi org yg sholeh. A doakan Teti slu"

Hatiku semakin gundah, ujianku tidak lagi konsentrasi, keinginan untuk segera pulang tidak bisa kubendung, setelah satu minggu, dari SMS itu, aku sudah mendafat tiket untuk pulang.

@@@

Matahari makin enggan menyorotkan sinarnya yang kian redup. Angin mengelus lembut dedaunan. Sesekali lengking burung memecah hening. Aku baru saja selesai membersihkan makam, dari daun beringin yang tumbuh tidak jauh dari makam. Kuambil bungkusan berisi bunga dan menaburkannya dengan penuh kasih sayang.

Aku menghela napas panjang. ''Istriku, semoga engkau bahagia di sana. Cinta, perjuangan dan pengorbananmu tak pernah bisa kulupakan. Allah jua yang pasti membalas segala kebaikan dan amalmu. Doaku semoga surga sudah menantimu di akhirat kelak. Anak kita akan kujaga dan akan ku didik sesuai harapanmu” Suaraku perlahan diterbangkan angin. Aku berusaha meredakan emosi yang menyesakkan rongga dada. Matahari menyerah ke dalam pangkuan senja. Langit Barat mulai memerah.

By : Kang Bahra

Jumat, 28 November 2008

Potret Adinda


Potret Adinda

Ku basahi muka tuk memupus dosa-dosa yang menggelayut memupus pancaran cahaya ke tenangan. Ya Rab putihkan lah wajahku ini dengan bias cahaya-Mu pada hari engkau putihkan wajah-wajah kekasihmu. Sepertiga akhir malam itu, setelah bersujud kusampaikan do’a-do’a suci kehadirat maha kuasa. Di butir do’aku kupinta aku dan Ibu selamat dunia akhirat dan tak lupa kupinta kepada yang maha kuasa semoga almarhum ayahku ada dalam rahmat dan ridla-Nya. Diakhir do’a kurangkum seluruh kaum muslimin bisa bahagia mendapat surga.

Mentari pagi menebarkan cahayanya keseluruh buana warna kemilau emasnya menambah keindahan suasana, padi yang menguning bagai latar make up kecantikan dunia yang sedang berdandan di pagi hari. Pohon kelapa dipematang sawah bagai pita sanggul gadis desa yang membuat indah menawan. Cicitan burung bagai alunan musik nan indah di dengar. Setelah sarapan pagi kugendong tas mungil yang berisi planing kegiatan acara perpisahan. Aku ucapkan salam kepada Ibu sambil pamit tuk berangkat ke sekolah melanjutkan kumpulan bersama teman-teman yang kemarin tertunda. Ku langkahkan kedua kaki menyusuri jalan sempit yang tak jarang ku temui genangan-genangan air yang berwarna coklat bekas hujan kemarin siang. Setelah mimpi malam tadi, batinku selalu bertanya-tanya tuk mencoba menakwil mimpi yang aku alami semalam. Aku yakin bahwa dialah yang kutemui di mimpi itu. Dialah yang membuat semangatku naik tuk melawan arus sungai yang menyelamatkanku dan akhirnya bisa kembali.

Kususuri langkah demi langkah, hingga sampailah aku di Madrasah Aliyah (MA) 1 Tasik. ”Rid di ruang mana kita rapatnya..?” tanya Johan teman sekelasku yang menjadi seksi acara dalam kepanitiaan perpisahan tahun ini.

“di tiga IPA “ jawabku singkat,

”Rid ...katanya kamu mau ke Mesir ya..?”

”kata siapa Han..? ,

”Info Rid”

“Dari mana...?”

“Nanti juga kamu tahu”.

“Tapi aku belum pernah berbicara tentang ini. Lagian belum tentu lulus juga...”

“Ratna, teman kita anak tiga IPA itu, semalam mimpi-in kamu, katanya kamu mau nerusin studi ke Mesir.”

“Ratna...? ke Mesir...?” Hatiku menebak-nebak dua nama tersebut sambil menerawang membayangkan impian semalam. “Ada Ratna dan ada Mesir?, kok sama, aku pun memimpikannya, tapi dalam mimpiku, aku terjatuh ke sungai yang deras, dan ketika aku berteriak namun tak ada seorangpun yang menolongku, hingga datang seorang gadis yang berteriak supaya aku berpegang terhadap tambang yang mengurai dari sebuah jembatan”, memori-ku kembali bangkit.

“kok ngelamun Rid...?”

“ehh...enggak ...nggak apa apa...” aku terhentak, namun dengan secepat kilat aku berusaha menyembunyikan lamunaku seraya menyapa “Han mau kemana sekarang...?”

“Nunggu Danu yang belum datang”.

“Oh ya, saya duluan”

“Assalamualikium“

“Waalikumsalam” jawabku.

Musyawarah untuk membahas perpisahan pun dimulai. Tiba-tiba... “Hai Farid ..mau ke Mesir ya..?” ucap teman-teman akhwat yang sudah berkumpul di ruangan 3 IPA. “Ah ujian juga belum tentu lulus, kalian ngelantur aja”, jawabku sambil coba menggerakan kedua bibirku tuk tersenyum.

Setelah seluruh permasalahan usai dibahas, ku tutup pertemuan ini seraya berujar “Teman-teman kita akhiri perkumpulan hari ini, kita tutup dengan bacaan hamdalah” serentak dengan khidmatnya teman-temanku berdzikir memujinya. “Silahkan mungkin mau pada pulang” sambungku menutup pembicaraan.

Ku baca-baca lagi berberapa kesepakatan tadi yang masih tertulis dalam kertas-kertas yang belum dibukukan. Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, akhirnya tatapanku terhenti pada sosok akhwat yang masih sibuk menggoyang-goyangkan penanya.

“Rat... belum pulang ?’’.

“Ya kak, lagi nyalin yang tadi.” jawabnya yang menjabat sekretaris.

Aneh, aku selalu merasa senang bila bertemu Ratna, hatiku tak bisa memungkiri dialah yang menghadiri mimpi ku tadi malam. Ku paksakan tuk bertanya kembali “Ratna kalau lulus mau kemana ?’’ tanyaku mencairkan suasana.

“Enggak tahu Kak!, kalau kak Farid ke mana?”

“Enggak tahu juga, lagian ujian juga belum tentu lulus.”

“Ah kak Farid kan selalu juara kelas dan rajin belajar, jadi besar ke mungkinan lulus” pujinya. Kalimat pujian Ratna tadi bagai dentingan musik yang membuat asaku menereawang menembus langit-langit dan hinggap di bintang suroya.

“Kak sudah selesai, yuk kita pulang” ajaknya. “Oh silahkan duluan aku ingin bertemu dulu dengan pak kepala untuk menyampaikan hasil rapat tadi” jawabku, “Rat bisa nggak tulisan yang tadi Ratna tulis saya pinjam dulu untuk di laporkan ke pak kepala” pintaku. “Oh... silahkan,” Ratna menyodorkan buku double polio sambil melemparkan senyum keramahanya yang membuat hatiku berdebar nggak karuan. “Assalamualikum” ucapnya sambil membalikan tubuhnya kearah pintu.

“Wa alikum salam” jawabku sambil kutatap hingga sososok yang kuimpikan itu lenyap dari pandanganku terhalang dididing yang membatasi antar ruangan di sekolahku.

Astagfirullah, sudah jam 11.00, Aku terbangunkan dari lamunan oleh deringan alarm di HP.

Aku tidak merasa bosan melihat tulisan Ratna yang indah dan mudah di baca, yang memuat data tentang planning acara perpisahan. Di buku itu tertulis sebuah biodata yang ditempeli lukisan wajah Ratna. Tertulis pula kalimat pendek tapi sarat dengan makna. “ Pesan : Hidup itu tidak selalu mudah tetapi selalu mungkin.”

Kesan : Selama ini aku tidak bisa bohong dengan hatiku tentang...semua hal yang Aku alami.

Cita-Cita : Ustadzah dan menjadi Ibu Rumah tangga yang baik.”

Hari demi hari ku lalui, tinggal sehari rapat perpisahan setelah ku baca-baca semua kesepakatan yang telah di buat, Senin malam benar-benar terasa lama bagi diriku. Ku membayangkan betapa indah bertemu dengan seseorang yang selalu hadir dalam relung hatiku. Masih ku tatap raut wajah Ratna yang tersenyum dalam photo, ku raih pena dan ku ukir sebuah kalimat dalam secarik kertas dan ku selip di buku yang ku pinjam Terima kasih, bolehkah aku hadir di sisimu.

Ku datang paling awal ke sekolah sebelum rapat, ku serahkan buku tersebut ke pada pemiliknya.

Untaian rantai detik dialalui. Kini tibalah perpisahan kelas tiga MA Tasik 1, semua orang tua murid kelas tiga hadir dalam undangan sekolah. Setelah beradu tangis dengan guru dan adik kelas dan tentunya dengan teman satu kelas. Anak–anak kelas tiga pun pulang bersama orang tuanya. Hanya akulah yang belum pulang, tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah suara, “Kak Farid, Ratna Minta maaf karena selama ini Ratna sering melakukan kesalahan”.

“Ratna aku juga sangat minta maaf”. “Kak ini” Ratna tidak mampu mengeluarkan untaian suara dari mulutnya hanyalah suara isakan dan secarik kertas yang aku terima. “Assalamualkum”. Ratna Pulang mendahuluiku berpamitan pulang. “Waalikum salam” Ku buka kertas tadi dan ku baca Kak seandainya Kakak betul mengharapkan aku, Bapak dan Mamahku sudah menunggu, datanglah ke Rumah.

By : Kang Bahra

Selasa, 18 November 2008

Keutamaan qiam lail


Keutamaan Qiyamul-Lail
Selasa, 23 Sep 2008 18:47 WIB Cetak | Kirim | RSS

Hendaknya ummat Islam memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan Ramadhan yang sangat berharga, terutama di sepuluh malam terakhir. Jangan ada satu malampun di bulan suci Ramadhan yang tidak diisi dengan kegiatan sholat malam.

Ramadhan merupakan bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa di dalamnya sedangkan Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sunnahkan kaum muslimin melaksanankan qiyamul-lail (sholat malam/ sholat tahajjud).

َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَمَضَانَ
شَهْرٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِينَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (أحمد)


Bersabda Rasululah shollallahu ’alaih wa sallam, "Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan dan mengharap ke-Ridhaan Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya." (HR Ahmad 1596)

Perlu diketahui bahwa sholat malam diperintahkan Allah ta’aala khusus kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam melalui firmanNya sbb:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Israa ayat 79)

Tetapi seluruh ummat Islam disyariatkan mencontoh kepada perbuatan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Sepatutnya setelah Ramadhan berlalu hendaknya kita terus mengerjakan qiyamullail ini. Sebab Allah ta’aala menjelaskan bahwa orang-orang yang menjaga sholat malam, itulah sebenarnya orang yang berhak dan layak menerima kebaikan serta rahmat-Nya.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS Adz-Dzaariyaat ayat 15-18)

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan ummatnya untuk mengerjakan sholat malam sambil menjelaskan bahwa kegiatan mulia tersebut merupakan kebiasaan orang-orang sholeh sejak zaman dahulu. Di samping itu ternyata sholat malam menghasilkan banyak manfaat sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ
قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنْ الْإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنْ الْجَسَدِ


Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda : “Kerjakanlah sholat malam sebab ia merupakan kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kamu pada zaman dahulu. Ia juga merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’aala, sebagai penebus amal kejahatan-kejahatanmu, pencegah dosa dan penangkal penyakit pada badan.” (HR Tirmidzi 3472)

Bahkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam memasukkan orang yang biasa sholat malam sebagai kelompok yang dijamin bakal masuk surga, tempat kenikmatan abadi yang Allah ta’aala sediakan bagi hamba-hambaNya yang sholeh.

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, jalinlah hubungan silaturrahim, sholatlah di waktu malam tatkala orang-orang masih tidur, pasti kamu semua masuk surga dengan selamat dan sejahtera.” (HR Tirmidzi 2409)

Saudaraku, tidakkah kita ingin selalu dekat dengan Allah ta’aala? Tidakkah kita berambisi untuk meraih tebusan Allah ta’aala atas segala amal kejahatan yang pernah kita lakukan? Tidakkah kita merasa perlu memiliki pencegah dari melakukan dosa dalam diri kita? Dan tidakkah kita ingin selalu mempunyai penangkal saat penyakit badan muncul? Kemudian saudaraku, tidakkah kita ingin masuk surga Allah ta’aala dan hidup kekal dalam kenikmatan tiada tara itu?

Marilah, saudaraku, kita senantiasa hidupkan qiyamullail, baik di bulan Ramadhan maupun di luarnya.


Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template